Ibrah Kisah Ibrahim as:
Ayah Sebagai Kunci Tarbiyah Keluarga
Dr. M. Anugrah Arifin, M.Pd.I
(Khadim YPI Riyadhul Mubarok)
(di Sampaikan dalam Sholat ‘Iedul Al-Adha, 10 Dzulhijjah 1447 H
di Masjid Al-Ikhlas Selagalas)
‘‘Khutbah Pertama:’’
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلهِ الْحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا رَسُولَ اللهِ، وَرَحْمَتُهُ الْمُهْدَاةُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أما بعد، فَأُوصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، قَالَ تَعَالَى: إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ، اُدْخُلُوْهَا بِسَلَامٍ آمِنِينَ (الحجر: ٤٥-٤٦)
Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,
Hari ini kita berkumpul dalam suasana penuh keberkahan, merayakan Hari Raya Idul Adha. Hari raya yang sarat dengan makna pengorbanan (qurban) dan ketundukan total (taslim) kepada perintah Allah SWT. Di antara inti dari peringatan ini adalah mengingat kembali keteladanan agung seorang ayah dan putranya: Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Nabi Ismail ‘alaihissalam. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Ash-Shaffat ayat 102-107:
> ‘‘فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ. فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ. وَنَادَيْنَاهُ أَن يَا إِبْرَاهِيمُ. قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ. إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ. وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ.’’
“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.’ Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah). Lalu Kami panggil dia, ‘Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.’ Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh, ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”‘‘‘(QS. Ash-Shaffat: 102-107)”
Ibnu Asyur menjelaskan bahwa ayat ke 102 didahului oleh informasi mengenai berita gembira yang disampaikan Allah SWT kepada Nabi Ibrahim as berupa akan lahirnya keturunan penerus beliau Nabi Ismail as, sebagai jawaban dari Panjang dan tulusnya doa yang dilantunkan selama puluhan tahun untuk mendapatkan keturunan. Hal tersebut menjadi berita yang luar biasa menggembirakan (بشرنا) sebab kondisi beliau yang saat itu telah menginjak usia 86 secara fitrah tidak memungkinkan untuk melahirkan keturunan sehingga timbul kehampaan dalam hati yang secara langsung dihibur dengan kabar gembira akan kelahirannya generasi penerus Risalah Kenabian. Selanjutnya pada ayat 102 s/d 107 digambarkan informasi tentang ujian dan bentuk terbiyah dari Allah kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as yang mengandung berbagai hikmah pendidikan untuk para ayah sepanjang zaman bahwa pendidikan yang berpusat pada peran serta ayah (Father Centered) akan melahirkan generasi penerus yang Ideal untuk menggapai kemuliaan hidup dunia dan akhirat, diantara beberapa hikmah yang dapat dipetik dalam ayat tersebut adalah sebagai berikut:
-
-
Qurban: Ujian Keimanan dan Bukti Ketaatan
-
Kisah agung ini bukan sekadar dongeng masa lalu. Ia adalah pelajaran abadi tentang ‘‘kesabaran, ketaatan, dan kepercayaan mutlak kepada Allah SWT.’’ Qurban yang kita lakukan hari ini, dengan menyembelih hewan ternak, adalah simbol dari pengorbanan agung itu. Ia mengingatkan kita bahwa pengorbanan hakiki bukan sekadar harta, tapi kesiapan untuk melepas segala yang kita cintai demi keridhaan Allah.
‘‘Makna Spiritual Qurban:’’ Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 37:
> ‘‘لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ’’
‘“Daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kamu.”‘
Imam Ibnu Qudamah dalam kitab ‘‘Al-Mughni’’ menjelaskan bahwa hikmah qurban adalah mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub), meneladani Nabi Ibrahim, bersyukur atas nikmat-Nya, dan menyantuni fakir miskin. Qurban melatih jiwa untuk ‘‘ikhlas, dermawan, dan mengutamakan kepentingan orang lain.’’
2. Teladan Seorang Ayah: Keteladanan Ibrahim ‘alaihissalam bagi Ayah di Masa Modern
Dalam narasi ujian besar yang terekam pada ayat di atas, ‘‘Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memberikan teladan luar biasa sebagai seorang ayah:’’
-
-
Komunikasi yang Jujur dan Penuh Kasih:’’ Beliau tidak memerintah secara otoriter. Beliau menyampaikan perintah Allah dengan lembut, “‘Ya bunayya’” (Wahai anakku), disertai penjelasan bahwa itu adalah mimpi (perintah Allah). Ini menunjukkan ‘‘kepekaan dan penghormatan kepada anak.’’ Penelitian dalam ‘‘Journal of Family Psychology’’ (2014) menunjukkan bahwa ayah yang terlibat secara emosional, terbuka dalam komunikasi, dan penuh kasih sayang, memiliki dampak signifikan terhadap ‘‘kesehatan mental, kepercayaan diri, dan kemampuan sosial anak’’ yang lebih baik. “‘Ya bunayya’” adalah fondasinyaMelibatkan Anak dalam Keputusan Besar:’’ “‘Fanzur madza tara’” (Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!). Ibrahim mengajak Ismail, yang sudah baligh dan mampu berpikir, untuk bermusyawarah. Ini adalah ‘‘pendidikan partisipatif’’ yang luar biasa. Sebagaimana Ibrahim melibatkan Ismail dalam memahami perintah Allah, ayah modern perlu melibatkan anak dalam diskusi tentang nilai-nilai kehidupan, tanggung jawab, dan keimanan. Penelitian UNICEF tentang ‘‘“Fatherhood: Parenting Programmes and Policy”‘‘ menyatakan bahwa keterlibatan ayah yang aktif dalam pengasuhan dan pendidikan nilai ‘‘meningkatkan resiliensi (ketahanan) anak dan mengurangi perilaku berisiko
-
Mendidik Ketaatan dan Kepercayaan Kepada Allah:’’ Dialog ini bukan sekadar meminta pendapat, tapi ‘‘menguatkan keyakinan Ismail tentang ketaatan kepada Allah.’’ Hasilnya, jawaban Ismail yang penuh ketundukan dan betapa pentingnya pengorbanan Seorang ayah. Pada masa ini, ayah dituntut untuk berkorban: waktu, tenaga, kesenangan pribadi, demi kesejahteraan dan pendidikan anak. Namun bagi orang beriman, pengorbanan paling besar Adalah kerelaan dan kesediaannya untuk hadir memberikan teladan ketakwaan, kesabaran serta life skill, yang menunjukan ‘‘kehadiran emosional dan spiritual.’’ Penelitian dari ‘‘Harvard University’’ tentang perkembangan anak menunjukkan bahwa ‘‘kehadiran dan keterlibatan aktif seorang ayah secara konsisten’’ adalah prediktor kuat bagi kesuksesan akademik dan sosial anak di masa depan
-
Kesiapan Berkorban dengan Cinta Tertinggi:’’ Cinta seorang ayah kepada anaknya adalah fitrah yang sangat kuat. Al-Qur’an menggambarkan betapa berat ujian ini (“‘إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ.’”). Namun, cinta kepada Allah mengatasi segalanya. ‘‘Ibrahim mengajarkan bahwa cinta tertinggi adalah yang mengutamakan ridha Allah.’’ Imam Al-Ghazali dalam ‘‘Ihya Ulumuddin’’ menekankan pentingnya pendidikan anak dengan kasih sayang dan teladan, bukan sekadar perintah. Pendidikan Ibrahim kepada Ismail adalah prototipe terbaik: komunikasi penuh kasih yang melahirkan ketaatan ikhlas. Seorang ayah pada zaman yang penuh fitnah ini harus menjadi teladan dalam ibadah dan akhlak. Anak lebih mudah menangkap apa yang ‘dilihat’ daripada apa yang ‘diperintahkan’. Ketika anak melihat ayahnya shalat dengan khusyuk, berqurban dengan ikhlas, bersedekah, jujur, dan sabar, itulah ‘‘pendidikan paling efektif.’’ Imam Ibnul Qayyim dalam ‘‘Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud’’ berkata: “Seorang anak akan tumbuh di atas kebiasaan yang dilakukan ayahnya.”
-
Dengan mengambil ibrah dari Ibrahim as dan Ismail as maka perhatikanlah wahai para ayah, marilah kita semua :
“menjadikan ibadah qurban kita sebagai ‘‘latihan pengorbanan sejati’’ untuk meninggalkan sifat kikir, egois, dan cinta dunia berlebihan.
‘‘Wahai para ayah!’’ Teladanilah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Jadilah ayah yang:
‘‘ Wahai para ayah: Gunakanlah kata-kata lembut, dengarkan anak, libatkan mereka dalam diskusi. Sebab kelembutanmu akan menyejukkan jiwa para anak”
‘ Wahai para ayah.! Mari Peduli dan hadir:’’ Berikan waktu dan perhatian yang berkualitas, bukan hanya materi. Kehadiranmu lebih berharga daripada sekedar harta.
‘ Wahai para ayah’’ Anakmu adalah cermin darimu. Mari berikan telaadan dalam iabadah dan takwa, Ajarkan dengan tindakan nyata.
‘‘dan bagi para anak!’’ Teladanilah Nabi Ismail ‘alaihissalam. Hormati dan taatilah orang tuamu dalam kebaikan, berbaktilah kepada mereka, sebab surgamu ada dalam Ridho kedua orang tua mu.
3. Mewariskan Ketakwaan Komprehensif . Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah. Mari Kembali kita renungkan makna qurban dan teladan ayah dalam ayat tersebut, yang implementasinya kita laksanakan Bersama pada hari ini dalam rangkaian ibadah Idul Qurban. Mari kita jadikan momentum idul Qurban sebagai momentum berharga yang sangat ideal untuk mewariskan ketakwaan komprehensif pada keluarga kita. Ketakwaan yang tidak hanya tertulis dalam Al-Aqur’an dan kitab para ulama’ namun terimplementasikan dalam setiap sendi kehidupan kita, ketakwaan yang tidak hanya berupaya membangun hubungan harmoni dengan sang Ilahi melainkan juga mendorong kita unutk menjalin hubungan social yang humanis dan menentramkan dengan semangat muslim sejati yang digambarkan Rasulullah ﷺ :
المسلم من سلم المسلم من لسانه و يده
Muslim sejati adalah mereka yang memiliki ketakwaan komprehensif yaitu muslim yang mampu menghadirkan kedamaian, kesejahteraan, ketentaraman dan keamanan bagi muslim lainnya dengan menjaga diri dari segala potensi yang mempu menimbulkan kerugian bagi orang lain. Dengan demikian, pada idul qurban tahun ini mari kita senantiasa berupaya untuk :
-
-
Memperbaharui Keikhlasan:’’ Sebagaimana Ibrahim dan Ismail mengorbankan keinginan pribadi demi perintah Allah, qurban kita harus lahir dari hati yang ikhlas, bukan riya’ atau sekadar tradisi.
-
Memperkuat Solidaritas Sosial:’’ Daging qurban dibagikan kepada yang membutuhkan. Ini adalah pelajaran ‘‘kepedulian sosial’’ yang nyata. Seorang ayah harus meneladani sikap dermawan dan peduli ini dalam keluarganya dan masyarakat.
-
Membangun Keluarga yang Bertakwa:’’ Dialog Ibrahim dan Ismail adalah cermin keluarga sakinah yang dibangun di atas ketaatan kepada Allah. Ayah sebagai pemimpin keluarga berkewajiban meneladani Ibrahim dalam mendidik anak dan istri dengan kasih sayang dan nilai-nilai Islam.
-
Semoga ibadah qurban kita diterima Allah SWT, dan kita semua diberikan kekuatan untuk meneladani kesabaran, ketaatan, dan pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Semoga para ayah diberikan taufik untuk menjadi qudwah hasanah bagi keluarganya.
Khutbah Ke 2
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، فَاللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ المَيَامِيْنَ، وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أما بعد فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى فِي هَذَا الْيَوْمِ الْعَظِيمِ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى تَمَامِ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ، وَأَتْبِعُوا رَمَضَانَ بِصِيَامِ سِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ، لِيَكُونَ لَكُمْ كَصِيَامِ الدَّهْرِ وَصَلِّ اللهُمَّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا أَمَرْتَنَا، فَقُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَارْضَ اللهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالحينَ، اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، اللهُمَّ اجْعَلْ عِيدَنَا هَذَا سَعَادَةً وَتَلاَحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِينَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ، اللهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اللهُمَّ أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِينَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ. عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ
Referensi:
-
-
Al-Mughni (Ibn Qudamah Al-Maqdisi):’’ Penjelasan hukum dan hikmah Qurban.
-
At-Tahrir wa At-Tanwir, Ibnu ‘Asyur
-
Ihya Ulumuddin (Al-Ghazali):’’ Pentingnya pendidikan anak dengan kasih sayang dan teladan
-
Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud (Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah):’’ Prinsip-prinsip pengasuhan anak dalam Islam.
-
Journal of Family Psychology (2014):’’ Dampak positif keterlibatan emosional ayah pada kesehatan mental dan kemampuan sosial anak
-
UNICEF Report on Fatherhood:’’ Pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan untuk ketahanan anak dan pencegahan perilaku berisiko
-
Harvard University Study on Child Development:’’ Keterlibatan ayah sebagai prediktor kesuksesan akademik dan sosial anak.
-
Neuroscience Research:’’ Interaksi positif ayah-anak meningkatkan oksitosin dan berdampak baik pada perkembangan otak anak (regulasi emosi, empati).
-
- TENTANG PENULIS
M. Anugrah Arifin, lahir di Mataram, 03 Maret 1990 dari pasangan Arifin Yasin, S.Sos, dan Kasmir, S.Pd.I. Melewatkan pendidikan formalnya di TK Aisyiah mataram lalu melanjutkan ke SDN 01 Mataram (2002), SMPN 01 Mataram (2005), MAN 1 Mataram (2008). Saat di Madrasah Aliyah, mulai menghafalkan Al-Quran di PON.PES Nurul Ulum Al-Aziziyah, lalu menyelesaikan hafalan Al-Quran dan memperdalam kitab-kitab klasik di Ma’hadul Quran PON.PES Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo-Jawa Timur, sekaligus menamatkan studi S1 Jurusan PendidikanBahasa Arab di Institut Agama IslamIbrahimy (IAII)Sukorejo -Jawa Timur. Penulis menikah dengan Zohratul Azmi, dan telah dikaruniai 2 orang Putra; Arfan Al-Mubarok Hafizhulloh, & Ahmad Kayyisil Mubarok serta seorang putri bernama Uroifa Hilyatil Mubarok.
Gelar Magister Jurusan Pendidikan Agama Islam diperoleh di Universitas Agama Islam Negeri (UIN) Mataram, dimana saat ini penulis sedang menyelesaikan Studi S3 Program Doktor Pendidikan Agama Islam di kampus yang sama. Sehari-hari penulis aktif sebagai Dosen Al-Islam dan Kemuhammadiyahan sekaligus menjabat sebagai Kepala Lembaga Pengkajian, Pengembangan dan Pengamalan Islam dan kemuhammadiyahan (LP3IK) Universitas Muhammadiyah Mataram, selain itu Penulis juga aktif sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Mataram (2023-2027) sekaligus berkhidmat sebagai Khadim Yayasan Riyadhul Mubarok Selagalas-Mataram yang bergerak dibidang pendidikan Islam khususnya Al-Quran, penulis juga aktif mengisi kajian-kajian Keislaman di Nusa Tenggara Barat. Diantara karya penulis adalah sebagai berikut: Buku Ajar Al-Islam 1 (Aqidah), bersama para dosen AIK UMMAT, Buku Pedoman Islamisasi Kampus , Akhlak dalam Keluarga, Buku Fiqih Wisata, Buku Ajar Al-Quran At-Tanwir, 40 Fadhilah Al-Quran, Buku Refrensi Islam dan Sains (Paradigma Integrasi), Islam dan Kemanusiaan tahun, Akhlak Bernegara, Aqidah-Akhlak Berbasis Humanistik, AIK berbasis Eco-Theology



